Pengertian dan Penjelasan Ar - Razzaq (Maha Pemberi Rezeki)

Pengertian dan Penjelasan Ar - Razzaq - Dalam kehidupan sehari hari pasti kita selalu dan selalu mencari yang namanya rezeki, padahal keseharian kita itu sudah dijamin oleh Allah SWT pada asma Allah yang bernama Al Razzaq yakni sang maha pemberi Rezeki, penjelasan lebih lengkapnya silahkan pahami melalui penjelasan kami dibawah ini.

1. Pengertian al Razzaq

Al Razzaq berasal dari kata razaqo atau rizq artinya rezeki. Ar Razzaq adalah Allah yang memberi banyak rizki kepada makhluknya dan secara berulang-ulang. Imam Al Ghazali menjelaskan arti ar Razzaq adalah Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia yang mengantarkan kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.
Pengertian dan Penjelasan Ar - Razzaq
Pengertian dan Penjelasan Ar - Razzaq

Allah menjamin rezeki setiap makhluknya. Jaminan Allah kepada rezeki makhluk-Nya tidak dapat diartikan apabila kita menginginkan sesuatu bisa di dapatkan tanpa usaha. Sebagai makhluk kita memiliki kewajiban untuk berusaha atau ikhtiar mencari rezeki yang sudah disiapkan Allah untuk kita. Cara memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan memanfaatkan dengan baik, sesuai dengan peraturan yang sudah digariskan Allah.
Ar Razzaq bukan hanya membagi rezeki kepada manusia saja, tetapi Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Burung yang ada di sangkar, cacing yang ada ditanah dan janin yang masih ada dalam janin ibunya. Semua rezeki telah disediakan Allah, dan rezeki yang Allah sediakan tidak akan pernah habis.

2. Meneladani Allah dengan sifat al Razzaq

a. Berkeyakinan bahwa Allah adalah penjamin rizki secara mutlak
Kesadaran tentang jaminan rezeki Allah harus kuat. Rezeki antara bayi dan orang dewasa berbeda. Jaminan rezeki Allah, berbeda dengan jaminan rezeki orang tua kepada bayinya. Bayi menanti makanan yang siap dan menanti disuapi. Kepada manusia dewasa, Allah menyiapkan sarana dan manusia diperintahkan untuk mengolahnya.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ (١٥)

“Dia yang menjadikan kamu bumi itu mudah (untuk dimanfaatkan) maka berjalanlah dia segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS. Al Mulk :15)
Karena itu ketika Allah ar Razzaq itu menguraikan pemberian rezeki-Nya dikemukakannya dengan menyatakan bahwa,
نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka anak-anak kamu.” (QS. Al An’am : 151)
b. Berusaha maksimal dan qona’ah
Agama menekankan perlunya berusaha dan apabila usaha tidak dapat menumukan keberhasilan karena terhalangi oleh satu dan lain sebab, maka manusia diperintahkan berhijrah. Di sisi lain manusia juga harus memiliki sifat “qana’ah” yaitu menerima atau merasa puas, tetapi ini bukan sekedar puas dengan apa yang telah diperoleh, tetapi kepuasan tersebut harus didahului oleh tiga hal.
1)   Usaha maksimal yang halal,
2)   Keberhasilan memiliki hasil usaha maksimal tersebut dan
3)   Dengan suka cita menyerahkan apa yang telah dihasilkan karena puas dengan apa yang telah diperoleh sebelumnya.
Dengan demikian usaha maksimal tanpa keberhasilan serta kemampuan kepemilikan, belum dapat mengantar seseorang memiliki sifat yang dianjurkan agama ini. Lebih-lebih jika ia tidak dengan suka hati menyerahkan apa yang telah dihasilkannya itu.
Rasul Saw pernah memuji burung-burung dalam perolehan rezeki mereka,Burung-burung keluar lapar di waktu pagi dan kembali kenyang disore hari. Apa yang disabdakan Rasul ini benar adanya, tetapi harus diingat dan diteladani bahwa burung-burung tidak tinggal diam di sarang mereka, tetapi terbang keluar untuk meraih rezekinya. Demikian pula seharusnya manusia.
c. Memanfaatkan rizki ke jalan yang benar
Memanfaatkan rezeki dengan baik dijalan yang benar adalah salah satu bukti rasa syukur hamba kepada Tuhannya. Berkenaan dengan rezeki yang bersifat material seseorang tidak harus menghabiskan seluruhnya. Bisa dengan cara ditabung sebagai persiapan keperluan yang tidak terduga dan dinafkahkan sesuai dengan ajaran agama. Seperti diterangkan dalam firman Allah :
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣)

“Dan nafkahkanlah sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah 2: 3)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٢٥٤)

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”(QS. Al Baqarah : 254)

Ar Razzaq bukan hanya membagi rezeki kepada manusia saja, tetapi Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Burung yang ada di sangkar, cacing yang ada ditanah dan janin yang masih ada dalam janin ibunya. Semua rezeki telah disediakan Allah, dan rezeki yang Allah sediakan tidak akan pernah habis.