Pengertian dan Penjelasan Al - Malik (Maha Merajai)

1. Pengertian al Malik

Al Malik diartikan dengan raja atau penguasa. Al Malik berarti raja penguasa atas seluruh makhluk-Nya.
Pengertian dan Penjelasan Al - Malik (Maha Merajai)
Pengertian dan Penjelasan Al - Malik (Maha Merajai)
Secara umum Al Malik diartikan Raja atau Penguasa, kata Malik terdiri dari huruf Mim Laam Kaaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan  Keshahihan. Al Malik mengandung arti penguasaan terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan keshahihanya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah segala kekuatan yang ada di alam semesta ini yang shahih dan tidak dapat di ingkari  kekuasaan-Nya meliputi semesta alam dan pengetahuan yang ada. Allah berfirman :
يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ (٢٩)
 “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar Rahman: 29)

Menurut Imam Ghazali, Malik adalah  yang tidak butuh pada zat dan sifat-Nya yang wujud, bahkan Dia adalah yang butuh kepada-Nya, Wujud segala sesuatu bersumber dari pada-Nya. Maka segala sesuatu selain-Nya menjadi Milik-Nya dalam zat dan sifat serta membutuhkan-Nya. Dialah Allah Raja Yang Mutlak.


Kekuasaan Allah adalah sempurna dan mutlak, sedangkan kerajaan lainnya tidak, karena kerajaan Allah meliputi langit dan bumi, seperti diterangkan dalam firman Allah :
وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٨٥)
Dan Maha suci Tuhan yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. Az Zuhruf: 85)

Allah adalah Raja yang sebenar-benarnya segala bentuk raja di dunia dan semesta ini adalah milik-Nya dan tunduk kepada-Nya, selain merajai di dunia yang fana ini, kerajaan Allah juga bersifat langgeng (abadi). Di terangkan dalam Firman-Nya dalam QS. Al Mu’min:16
يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (١٦)
“ (yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (lalu Allah berfirman):”Kepunyaan siapa kerajaan pada hari ini? ”Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”
Di terangkan lagi dalam QS. Al Fatihah: 4,
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)
Yang Menguasai hari Pembalasan.
Dengan begitu Allah yang menguasai pengetahuan dan segala urusan tentang hari pembalasan, yang menguasai waktu yang telah lalu dan yang akan datang. Dunia dan seisinya dalam genggaman-Nya. Dalam Hadits Rasulullah SAW : Allah Yang Maha Mulia Lagi Agung ‘menggenggam’ bumi pada hari kemudian dan ‘melipat’ semua langit dengan ‘tangan kanan-Nya’, kemudian berseru: Aku Adalah Malik (Raja), maka dimanakah (mereka yang mengaku) Raja? (HR. Bukhari).

Dengan meyakini dan memaknai Al Malik kita mempunyai landasan hidup yang mapan dan mantap, sehingga kebal akan bujuk rayu syaitan terhadap kita. Tidak ada yang kita ditakuti selain Allah karena hanya Allah yang patut untuk diminta pertolongan dan kita senantiasa takut akan azabnya, tidak takut akan kehilangan jabatan dan harta karena ada Yang Maha Raja dan kekuasaanya meliputi alam semesta, karena Allah senantiasa bersama orang-orang yang selalu mengingat-Nya.

2. Meneladani Allah dengan sifat al Malik

a. Tidak terlena dengan jabatan atau tahta
Dengan memaknai Al Malik ini,  manusia seharusnya sadar apabila kita sedang berada pada posisi teratas, masih  ada yang lebih tinggi dan itu akan menjadi koreksi dan motivasi kita bahwa jabatan yang kita miliki adalah sebuah amanat dan akan dipertanggungjawabkan, kekuasaan duniawi adalah fana atau sementara sedangkan kekuasaan Allah adalah Mutlak dan Abadi.
Rasulullah bersabda: “Orang yang dibenci oleh Allah serta yang paling jelek besok pada hari Kiamat adalah seorang yang menamakan dirinya dengan nama raja diraja, karena tiada Dzat yang bersifat Raja Kecuali Allah” (H.R. Muslim).

b. Dapat mengendalikan hawa nafsu
Dengan  memaknai sifat Al Malik, kita tahu bahwa yang menguasai segalanya adalah Allah, dengan begitu kita tahu bahwa hawa nafsu adalah bujukan syaitan yang hanya akan menjerumuskan kita kepada hal-hal negatif dan itu merupakan contoh ketundukan kita kepada syaitan. Seperti dijelaskan dalam firman Allah :
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨)
 “dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),  Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy Syams: 7-8)

c. Menjadi hamba yang bersyukur
Memaknai sifat Al Malik berarti kita mengakui tentang kekuasaan Allah di bumi dan langit, serta di dalam hati kita setiap mahluk-Nya. Dan dengan begitu kita harus mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan, sikap tesebut menunjukkan bahwa kita adalah hamba yang pandai bersyukur.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (٧)
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)


d. Selalu mengharap pertolongan Allah
Sebagai Yang Maha Kuasa, Allah lah yang menentukan segala urusan yang akan kita hadapi dan telah kita hadapi, Dia lah yang mengetahui segala pengetahuan tentang alam dan isinya serta tahu akan kedalaman hati seseorang. Segala apa yang kita ikhtiarkan tergantung pada ketentuannya karena Dia Yang Maha Kuasa, dengan mengharap pertolongan Allah berarti kita menunjukan sikap yang menumbuhkan kekuatan bathin dalam menghadapi segala sesuatu. Sebaliknya dengan tidak mengharapkan pertolongan dari Allah merupakan cerminan sikap yang angkuh. QS. Al Fatihah: 5-7 menerangkan :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)
 “hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, 7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Itulah sedikit informasi yang dapat kami bagikan untuk sobat mengenai asmaul husna Al Malik atau maha merajai. Jika menurut sobat bermanfaat ada baiknya jika sobat share ataupun berkomentar yang bagus mengenai Al Malik ini, karena berbagi ilmu itu indah.