Awal Mula Pemberontakan PKI Madiun 1948 Awal Sampai Akhir

Pemberontakan PKI Madiun 1948PKI (Partai Komunis Indonesia) sudah berdiri di Indonesia sejak tahun 1920. Pendiri PKI di Indonesia adaiah orang Belanda, yang bernama Sneevliet. Pada dasarnya, PKI merupakan partai keras yang sangat menentang penjajah, terutama negara kapitalis. Setiap gerakannya selalu frontal melawan pihak yang tidak sepaham dengan ideologi mereka. Karena gerakannya yang radikal, PKI sempat dilarang beraktivitas di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda. Banyak para pemimpinnya yang ditahan. Akan tetapi, setelah proklamasi kemerdekaan di kumandangkan, PKI kembali hidup dan eksis di Indonesia.

Pasca proklamasi kemerdekaan, PKI tetap menjadi partai oposisi yang menentang kebijakan pemerintah Indonesia. Kedatangan Belanda ke Indonesia untuk kembali menjajah Indonesia menjadi momentum PKI untuk merongrong pemerintahan Indonesia. Berbagai keputusan yang dianggap merugikan Indonesia ditentang, seperti keputusan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Puncaknya, pelaksanaan Perjanjian Renville yang sangat merugikan bangsa Indonesia.
Pemberontakan PKI Madiun 1948
Pemberontakan PKI Madiun 1948


Awal Mula dan Kronologi Pemberontakan PKI Madiun 1948

Perjanjian Renville yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin (17 Januari 1948) berdampak besar bagi dirinya. Partai-partai yang ada di kabinet menyatakan mosi tidak percaya kepada Amir Sjarifuddin. Akibatnya, dirinya harus turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Tentunya, hal tersebut membuat dirinya sangat kecewa. 

Amir Sjarifuddin kemudian berpaling ikut menjadi oposisi dengan mendirikan FDR (Front Demokrasi Rakyat) pada Febuari 1948. FDR sendiri merupakan gabungan dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Barisan T ani Indonesia, PKI dan Partai Buruh Indonesia. Hampir semua partai sosialis bergabung dalam FDR, kecuali Partai Sosialis Indonesia (PSI) pendukung Sutan Sjahrir dan Murba pendukung Tan Malaka. 

PKI (Partai Komunis Indonesia) sudah berdiri di Indonesia sejak tahun 1920. Pendiri PKI di Indonesia adaiah orang Belanda, yang bernama Sneevliet. Pada dasarnya, PKI merupakan partai keras yang sangat menentang penjajah, terutama negara kapitalis. Setiap gerakannya selalu frontal melawan pihak yang tidak sepaham dengan ideologi mereka. Karena gerakannya yang radikal, PKI sempat dilarang beraktivitas di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda. Banyak para pemimpinnya yang ditahan. Akan tetapi, setelah proklamasi kemerdekaan di kumandangkan, PKI kembali hidup dan eksis di Indonesia. 

Pasca proklamasi kemerdekaan, PKI tetap menjadi partai oposisi yang menentang kebijakan pemerintah Indonesia. Kedatangan Belanda ke Indonesia untuk kembali menjajah Indonesia menjadi momentum PKI untuk merongrong pemerintahan Indonesia. Berbagai keputusan yang dianggap merugikan Indonesia ditentang, seperti keputusan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville. Puncaknya, pelaksanaan Perjanjian Renville yang sangat merugikan bangsa Indonesia. 

Perjanjian Renville yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Amir Sjarifuddin (17 Januari 1948) berdampak besar bagi dirinya. Partai-partai yang ada di kabinet menyatakan mosi tidak percaya kepada Amir Sjarifuddin. Akibatnya, dirinya harus turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Tentunya, hal tersebut membuat dirinya sangat kecewa. Amir Sjarifuddin kemudian berpaling ikut menjadi oposisi dengan mendirikan FDR (Front Demokrasi Rakyat) pada Febuari 1948. FDR sendiri merupakan gabungan dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Barisan T ani Indonesia, PKI dan Partai Buruh Indonesia. Hampir semua partai sosialis bergabung dalam FDR, kecuali Partai Sosialis Indonesia (PSI) pendukung Sutan Sjahrir dan Murba pendukung Tan Malaka. 

Saat Perdana Menteri Mohammad Hatta mengumumkan Program Re-Ra (Rekontruksi dan Rasionalisasi), ternyata berdampak besar bagi FDR. Program Re-Ra merupakan program untuk merekonstruksi dan merasionalisasi kekuatan di tubuh TNI, sehingga ada beberapa kesatuan yang tidak masuk ke dalam tubuh TNI. Kesatuan yang tidak masuk kemudian diambil alih oleh FDR, seperti Brigade 29 dan Divisi Pasoepati. 

Keinginan FDR semakin radikal setelah Musso (pimpinan PKI) kembali dari Moscow, Rusia pada tanggal 11 Agustus 1948. Musso membawa paham baru “Jalan Baru”, yakni dalam satu negara hanya ada satu partai yang berlandaskan Marxisme-Leninisme sehingga FDR dan partai kiri lainnya harus dilebur menjadi satu bagian menjadi Partai Komunis lndonesia. PKl kemudian membentuk Front Persatuan Nasional yang dipimpin oleh Musso. Amir Sjarifuddin bersama pemimpin FDR lainnya mengakui kepamipinan PKl di bawah Museo. 

PKl memberikan masukan kepada pemerintahan Hatta agar mau bekerja sama dengan Uni Soviet dalam berperang melawan Belanda. Akan tetapi, usulan tersebut ditolak oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta, karena beliau memandang bahwa perjuangan bangsa indonesia berbeda dengan perjuangan kelas di Uni Soviet. Selain itu, apabila bekerja sama dengan Um Sax/m dan mampu memenangkan peperangan dengan Belanda, maka bangsa indonesia harus membayar kerja sama tersebut. Dengan demikian, lndonesia akan kembali dikuasai oleh pihak asing. Alasan beliau disampaikan dalam pidato kenegaraan pada tanggal 2 September 1948. ' 

Atas penolakan tersebut membuat PKI melakukan langkah radikal, yakni kudeta. PKl kemudian menyebarkan isu bahwa pemerintahan Hatta tidak mampu menjaga keamanan negeri dan pemerintahnya dituduh lebih condong kepada Belanda. Berbagai ketegangan antara angkatan bersenjata yang pro-PKl dengan pro-pemerintah terjadi di berbagai daerah, terutama di Surakarta (daerah oposisi). Pada tanggal 17 September 1948, pasukan Siliwangi berhasil memukul pasukan pro-PKl yang ada di kota tersebut. Pasukan pro-PKI kemudian mundur menuju ke kota Madiun. Di saat mundur, pasukan pro-PKl melakukan pembunuhan Gubernur Jawa Timur, R.M. Soerjo, saat rombongan beliau melintas di Ngawi, Jawa Timur. 

Pada tanggal 18 September 1948, pasukan pro-PKI beserta koalisinya berhasil merebut kota Madiun, dan mengumumkan berdirinya Republik Soviet indonesia dengan presidennya Musso. PKI kemudian mengangkat Kol. Djoko Suyono sebagai Gubernur Militer Madiun dan Letkol. Dahlan, Komandan Brigade 29 sebagai Komandan Komando Pertempuran Madiun. Tindakan PKI tersebut tentu saja memukul mental pemerintahan Indonesia. Saat pemerintah Republik lndonesia berjuang mati-matian mempertahankan kemerdekaan, terjadi cou'p d'etat di Madiun. 

Pada tanggal 19 September 1948 Presiden Soekarno menangkap tokoh-tokoh PKl yang ada di Yogyakarta. Malam harinya, Soekarno mengecam tindakan PKI di Madiun dan memerintahkan agar bangsa tetap bersatu dengan dirinya dan Hatta daripada dengan Musso. Saat itu juga, Presiden Soekarno memerintahkan untuk melakukan operasi militer untuk merebut kembali Madiun. Kekuatan PKl Musso digempur dari dua arah. Dari barat oleh pasukan Divisi II di bawah pimpinan Kolonel Gatot Soebroto. Adapun dari timur, pasukan Divisi I di bawah pimpinan Kolonel Soengkono dengan dibantu pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur di bawah pimpinan M. Jasin. 

Akhir dari Pemberontakan PKI Madiun 1948

Pada tanggal 30 September 1948, Kota Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Pasukan Republik yang datang dari arah timur dan pasukan yang datang dari arah barat bertemu di Hotel Merdeka di Madiun. Pada tenggat 31 Oktober 1948, Musso tewas dalam pertempuran kecil di Purwodadi, sedangkan Amir Sjarifuddin beserta pimpinan lainnya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Aidit dan Lukman dapat lolos dan melarikan diri ke Vietnam dan Tiongkok. Korban kudeta PKI di madiun belum diketahui, namun ditaksir hingga 8.000 jiwa.

Itulah sedikit informasi tentang Pemberontakan PKI Madiun 1948 yang dapat kami bagikan semoga sobat dapat mengerti apa yang kami berikan, semoga berguna.

1 komentar so far

Wah ternyata sejarah pemberontakan PKI di Madiun juga cukup panjang ya. Apalagi latar belakangnya. Sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya kita menjaga tanah air kita, jangan sampai ada lagi kelompok-kelompok seperti PKI ini.